Nawacita News
Nawacita News

Refungsikan UUD 1945 Yang Konstitusi Pro Pancasila Dalam Kiprah Keseharian

 

NAWACITA.NET – Sebagai salah satu faktor Pusaka Bangsa Indonesia, UUD 1945 yang terpadu dengan sila-sila Pancasila per amanat Pembukaan UUD 1945 [Berita Repoeblik Indonesia Th II, 1946 jo Lembaran Negara Republik Indonesia 75 Th 1959] adalah Konstitusi Pro Pancasila yang de jure sampai kini belum/tidak pernah secara legal formal dinyatakan dicabut sehingga seharusnya masih berlaku dan dipanuti bersama.

Dibandingkan UUD Reformasi produk dari Amandemen 1999-2002 yang de jure tidak terpadu dengan sila-sila Pancasila karena terpisah dengan Pembukaan UUD 1945 [Lembaran Negara Republik Indonesia 11-14 Th 2006] maka Konstitusi Pro Pancasila UUD 1945 itu lebih Pro Aksi-aksi Pemantapan Pancasila per pencanangan Presiden RI di Hari Bela Negara 19 Desember 2016.

Oleh karena itulah dalam rangka optimasi kondusifitas bernegarabangsa, mari segera bersama kita refungsikan UUD 1945 yang Konstitusi Pro Pancasila itu dalam kiprah keseharian kita sekarang juga oleh seluruh rakyat NKRI. Apalagi Politik Konstitusi Kesejahteraan Sosial Bab XIV UUD 1945 memang lebih mantap dikiprahkan daripada Politik Konstitusi Perekonomian Nasional Dan Kesejahteraan Sosial Bab XIV UUD Reformasi 1999-2002 yang termaknai dualistik bahkan bias.

Hal ini strategik ditimbang bersama, karena terbukti kini fakta empiris bahwa indeks Gini Ratio 0,32 di awal era Reformasi justru meningkat buruk jadi 0,41 pada tahun 2015 berikut juga indeks penguasaan lahan 0,67 yang menunjukkan hanya segelintir orang menguasai lahan, sedangkan penguasaan properti, terutama di wilayah Jabodetabek indeksnya makin parah yaitu mencapai 0,87 yang artinya 1 persen penduduk Jabodetabek menguasai properti 87 persen. Inilah pertanda nyata ketimpangan otentik, yang sebenarnya mengkudeta sila ke-2 dan ke-5 Pancasila yang masing-masing representasi kata “adil” yang kemudian berdampak buruk bagi sila ke-3 Pancasila yaitu, Persatuan Indonesia.

Baca Juga  Keren, Piala Greget Direbutkan Anak Yang Berbakat Talent Hunt 2017

Semua data-data tersebut menunjukkan bahwa sejak angin Reformasi bergulir pada 1998 hingga sekarang, daya rekat identitas makin luntur, bertalian makin congkaknya diimpor identitas dan ideologi bangsa lain.

Impor ideologi liberalisme terutama dari Barat dan masuknya ideologi trans-nasional Timur Tengah yang mengimpor “tiket instan masuk sorga”, membuat kita semakin jadi limbung. Beriringan dengan itu dirasakan bahwa ketimpangan dan kesenjangan semakin mendapat lahan empuk untuk tumbuh dan terus berkecambah. Sehingga hanya satu tekad: kembali pada identitas kita, Jatidiri Bangsa yakni Pancasila.

Merujuk amanat Bung Karno, “perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”, maka sudah saatnya kini seluruh anak bangsa berkiprah mengisi Indonesia Merdeka dengan selalu mengutamakan Keadilan demi Persatuan Indonesia yang berorientasi bagi aksi-aksi pemantapan Politik Kebangsaan Pancasila Indonesia termaksud di atas demi upaya-upaya Bela Negara antara lain perjuangan bagi keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5 persen dengan penurunan gini ratio sebagai cerminan bagi Politik Pemerataan Kesejahteraan Sosial yang berKeadilan.

Pandji R Hadinoto
Ketua GPA45/DHD45 Jakarta

  Jakarta – Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan yang juga purnawirawan Jenderal TNI, mengingatkan komunisme […]

BANDAR LAMPUNG – Menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 mendatang, internal Partai Demokrat sedang menggodok beberapa […]

  Jakarta –  Seminar “Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/1966” yang digelar di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) […]

  BANDA ACEH – Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) provinsi Aceh Muhammad Abubakar mengecam keras […]

OPINI NAWACITA.NET- berkat ada unsur sengaja atau tidak, yang pasti guyonan Ketua Umum DPP Partai […]