Nawacita News
Nawacita News

Kepala Sekolah SMAN 1Selatan Rote Lakukan Diskriminasi Dengan Mengeluarkan 4 Siswa

 

Rote ndao,Nawacita.net – Bukannya mengedepankan tugas pokok dan fungsi guru sebagai salah satu ujung tombak dalam penyelenggaraan pendidikan yang baik dan profesionalisme, diduga sejumlah guru, security dan beberapa siswa malah menjadi actor pengeroyokan siswanya sendiri di dalam kelas dan diluar kelas beberapa waktu lalu.

Atas insiden ini, bukannya kepala sekolah memberi teladan dan menjaga nama baik lembaganya, kepala sekolah malah mengambil keputusan untuk mengeluarkan empat dari tujuh siswa korban pengeroyokan siswa di SMAN 1 Rote Selatan dikeluarkan dengan cara tidak etis.

Demikian dikatakan, Soleman Lekeama,salah satu orang tua korban di kediamannya, sabtu (03/03)malam.

 

“Sesuai hasil pertemuan orang tua dan kepala sekolah, pak soleman saudale dan wakil kepala sekolah sekolah bidang kesiswaan, jony saudale dan guru lainnya, mereka hanya membacakan anak-anak kami sudah dikeluarkan dari sekolah yang merupakan korban, sementara anak anak yang memukul tidak di baca, ini kan bukti diskriminasi dari pak kepala sekolah dan adiknya yang notabene sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan”kata Lekeama.

 

Dikatakannya, semua orang tua korban bersepakat dan telah mengambil keputusan untuk melaporkan kasus ini ke pihak Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi NUsa Tenggara Timur melalui UPT wilayah III wilayah Rote Ndao,provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mengevaluasi kinerja dan pelayanan di SMAN 1 Rote Selatan dengan tembusan ke KPAI juga untuk diketahui karena KPAI juga sebagai salah satu lembaga yang dibentuk untuk memberikan hak perlindungan anak untuk bebas dari kekerasan dan diskriminasi.

 

“Setelah pembacaan keputusan bahwa anak-anak di keluarkan baru kami diberi kesempatan untuk berbicara hanya kami tidak protes karena kami anggap semua sudah di final, jadi ceritanya kami hadir disana hanya untuk mendengar keputusan dari kepala sekolah bukan menyelesaikan persoalan” ujar Lekeama.

Baca Juga  DPMPTSP Raih Peringkat Terbaik Pertama Tingkat Provinsi Jawa Barat

 

Terpisah, Kepala Desa Oematamboli, Simsoni Balukh dalam kesempatan ini menjelaskan bahwa pemerintah desa siap menindaklanjuti apa yang sudah menjadi keputusan keluarga korban untuk melaporkan hal ini ke UPT III wilayah Rote Ndao nantinya tembusan surat ini ke pihak-pihak terkait untuk untuk diketahui.

 

“pada prinsipnya, pemerintah desa siap menindaklanjuti apa yang sudah menjadi keputusan masyarakat, sebenarnya kalau masalah di sekolah yang bina itu kepala sekolah tetapi di luar dari itu ketika mereka kembali ke wilayah saya,itu masyarakat saya sehingga kalau ada pengaduan saya siap mengambil tindakan” kata Balukh.

 

Adapun ketujuh korban pengeroyokan ini adalah Yolsem Doo, siswa kelas 11 Bahasa, Yufri Adu siswa kelas 11 IPS, Aldi Nadek,siswa kelas 11 IPS, Dion Anabokai, siswa kelas 11 IPS,
Iksan Lekeama, siswa kelas 11 IPS dan
Adiman lekeama, siswa kelas11 Bahasa, dari keenam korban ini, empat korban dikeluarkan dari sekolah sementara dua siswa lainnya hanya mendapat hukuman. Keenam korban ini dipukul oleh Maksi malelak sebagai sekuriti, Jekib Josua, Yermi siokain,Andri Laik dan Paul Siokain yang adalah guru kontrak beserta sejumlah siswa.
(DH )

Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa Gak habis pikir! Semua aktifitas negara ini didominasi […]

Jakarta –  Sekjen Dewan Pengurus Nasional Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia, Cahyo Gani Saputro mengapresiasi langkah […]

Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa Asyik… Tol Trans Jawa sudah jadi. Lebaran bisa […]

Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa Menang! Itulah tujuan debat pilpres. Benarkah? Secara pragmatis, […]

Surabaya – Persatuan Alumni Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Jawa Timur menggelar acara Dies Natalis ke-60 […]