Nawacita News
Nawacita News

Diskusi Jum’atan Indonesia Muda” Membedah Konsep Ekonomi Kerakyatan Prabowo-Sandi”

Relawan Indonesia Muda Menggelar Diskusi Rutin di Tebet Jakarta Selatan 

Jakarta – Relawan Indonesia Muda kembali menggelar diskusi rutin Jum’atan dengan tema “Membedah konsep ekonomi kerakyatan Prabowo-Sandi” di bilangan Tebet, Jakarta Selatan (11/10).

“Kita akan membedah konsep ekonomi kerakyatan Prabowo-Sandi dalam beberapa seri, kali ini kita akan mengupas pasal 33 UUD 45,” kata Azman saat membuka diskusi.

Perekonomian global saat ini dikuasai oleh dua pemain besar yaitu Amerika Serikat dan China, sebagai kekuatan ekonomi baru yang berkembang lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak negara.

Sebagai salah satu negara yang tergolong dalam ekonomi berkembang, Binbin Firman Tresnadi mengungkapkan, Indonesia berada dibawah pengaruh kekuatan ekonomi besar itu, terutama dalam bidang keuangan dan Industri dalam negeri.

“Sementara kita ketahui bahwa pembangunan Indonesia sangat tergantung pada dana dari pinjaman luar negeri, maka tak pelak China menjadi Donor terbesar saat ini,” ujar Wakil Sekjend PRD.

Dinamika Liberalisasi keuangan Indonesia, sudah sejak lama terbuka bagi asing sejak dimulainya penerimaan bantuan luar negari.

“Pasca reformasi 1998 liberalisasi diberbagai sektor dibuka lebar. Hal ini ditandai dengan terjadinya amandemen UUD 45. Dengan adanya amandemen terutama pasal 33 UUD 45, maka kita ikut arus besar liberalisasi dan siap atau tidak bersaing dalam gelombang globalisasi,” kata Binbin.

Salah satu jalan untuk menyelamatkan kedaulatan ekonomi bangsa adalah melalui proteksi, langkah ini dianggap antithesis dari liberalisasi dan akan menyelamatkan perekonmian nasional.

“Berbagai contoh di negara Eropa dan Amerika, petani, peternak dan industri mendapatkan proteksi guna menjaga daya saing mereka,” tambahnya.

“Satu-satunya Presiden yang pernah melakukan perlawanan frontal terhadap Amerika adalah Soekarno dengan berbagai kebijakan ekonomi pro rakyatnya. Dan hal itu didukung sepenuhnya oleh rakyat,” tegasnya.

Baca Juga  RNB Selalu Upayakan Inovasi Terbaru

Problem utama bangsa Indonesia saat ini diyakini adalah masalah pangan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir semua bahan pangan kita adalah hasil Import, Beras merupakan komoditas Import terbesar, disusul Gandum, Jagung, Gula, Garam bahkan Singkongpun diimport dari luar negeri.

Guntur Siregar, mantan Sekjend Projo mengungkapkan, problem pangan bukan diselesaikan dengan import, hal ini merupakan suatu hal yang ironis sekaligus perlu mendapatkan perhatian kedepan nya.

“Sebenarnya persoalan politik pangan di Indonesia adalah politik pedagang. Oleh karena itu political will untuk mengembangkan komoditas bahan pangan di Indonesia pada akhirya mati suri dan kondisi ini diperparah lagi dengan bahan import yang membunuh petani di Indonesia,” papar Deklarator Relawan Indonesia Muda.

Pertanyaannya adalah apakah Prabowo nanti akan mampu berpihak pada kedaulatan ekonomi kerakyatan?

“Hal ini diyakini bisa terjadi jika masyarakat memberi dukungan nyata pada konsep kedauatan pangan yang menjadi salah satu program Prabowo-Sandi,” pungkas Guntur Siregar.bie

  PEKANBARU – Bawaslu Provinsi Riau telah melaksanakan Pleno dalam mengambil keputusan terhadap pelaporan tindak […]

  Cibinong – Puluhan pengurus Projo Bogor menyatakan menarik dukungan yang telah diberikan kepada Joko […]

Relawan Melati Putih Indonesia (MPI) menggelar talkshow yang bertajuk “Menuju Indonesia Baru Jakarta- Relawan Melati […]

  Bekasi -Ulang Tahun Golkar ke 54 akan membuat kepengurusan daerah – daerah memberi kegiatan […]

Relawan Indonesia Muda Menggelar Diskusi Rutin di Tebet Jakarta Selatan  Jakarta – Relawan Indonesia Muda […]