Nawacita News
Nawacita News

Jalan Tol Untuk Siapa ?

Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Asyik… Tol Trans Jawa sudah jadi. Lebaran bisa pulang cepat Jakarta-Semarang bisa ditempuh 6-7 jam. Jakarta-Surabaya cuma 10-12 jam. Gak perlu berlama-lama lagi di jalan.

Ini baru ada di era Jokowi jadi, rakyat harus berterima kasih kepada Jokowi tidak kepada presiden-presiden sebelumnya karena yang sukses membangun tol Trans Jawa (panjangnya 933 km) itu presiden Jokowi  Oh… Kalau anda tidak dukung (pilih) Jokowi, jangan lewat jalan tol, begitu kata walikota Semarang.

Sabar! Jangan bereaksi dulu Cukup yang lulus SD, atau maksimal SMP, yang boleh komentar. Untuk menilai ucapan walikota Semarang itu, tak perlu kuliah dan berijasah S1. Eman-eman ijasahnya  Ketinggian

Lewat jalan tol, anda merasa asyik. Apakah orang lain juga merasa asyik? Ikut menikmati jalan tol seperti anda?

Anda punya banyak uang. Tak masalah, sekali dalam setahun keluar uang untuk bayar tol. Sopir truk ogah lewat tol. Kenapa? Mahal! Pembekakan biaya. Bisa sampai 100% bengkaknya, kata Nofrisel, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo).

Sesekali lewat tol itu semata-mata untuk menghindari jembatan timbang. Masuk Weleri, keluar Pekalongan. Cuma 60 ribu rupiah. Dari pada kena tilang di jembatan timbang Rp. 100.000. lumayan, bisa menghemat 40 ribu rupiah.

Pantas saja, jembatan timbang Subah Kabupaten Batang sepi. Terjadi penurunan hingga 90%, kata ketua Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Subah, Arif Munandar. Rupanya, para sopir truk sudah mulai cerdas.

Bus juga males lewat tol. Alasannya sama. Mahal! Padahal, mereka yang setiap hari jalan. Dari mana melihatnya mahal? Tanya Luhut Binsar Panjaitan (LBP). Apa urusannya dengan LBP ya? Apakah tol sekarang sudah jadi urusannya menko maritim? Cuma komentar kan boleh-boleh aja. Apalagi seorang menteri. Sah!

Baca Juga  Emi Nomleni Paket Marhaen Siap Penuhi Kebutuhan Air Masyarakat

Anda hanya sesekali lewat jalan tol. Itupun kalau lebaran. Atau mendadak ayah, ibu atau keluarga anda ada yang meninggal. Anda terpaksa lewat tol. Jika tak mendadak, dan bukan di hari lebaran, apakah anda pulang kampung lewat tol? Terutama yang punya mobil Avanza dan sejenisnya.

Jakarta-Semarang (424,5 km) pakai Avanza, anda butuh bensin sekitar 300 ribu rupiah. Biaya tol? 289 ribu. Jadi, anda harus keluar biaya hampir dua kali lipat. Jakarta-Surabaya (760 km)? Anda keluar uang untuk beli bensin sekitar 600 ribu. Tol Rp.483,500. Jadi lebih dari 1 juta. Belum lagi anda masuk rest area. Harga makanannya cukup mahal. Beda jauh harganya dengan warung Si Mbok di pinggir jalan Pantura.

Yang pasti tol tidak dinikmati oleh sopir truk dan para penumpang bus yang umumnya orang-orang kecil yang berekonomi lemah juga mereka yang mobilnya tak mewah yang masih terasa berat beli bensin, apalagi biaya tol. Lebih-lebih, bensin dan tol beberapa tahun ini berebut naik. Seperti sedang berkompetisi.

Anda pernah merasakan bagaimana nasib para pedagang di jalan sepanjang Pantura? Ada ribuan penjual telur di sepanjang jalan raya Tegal dan Brebes. Ada toko-toko batik di Pekalongan. Ada warung-warung kecil berderet di Batang. Sepi! Sebagian sudah tutup.

Begitu juga nasib sejumlah rumah makan. Sebagian sudah mulai gulung tikar, karena mobil-mobil mewah memilih lewat tol. Tak lagi mampir di rumah makan- rumah makan itu. Sementara, mobil-mobil murah dan bekas, berhitung seribu kali makan di restoran. Bawa bekel sendiri dari rumah. Irit! Karena ekonomi sedang susah.

Tak hanya rakyat kecil yang menjerit, tapi juga PT. Jasa Marga (Persero) tbk.. Tarif sekarang tidak buat kita untung. Bertahan saja berat, kata Donny Arsal, Direktur Keuangan PT. Jasa Marga (Persero) tbk.

Baca Juga  IFC Minta Kejaksaan Negeri Bekasi Terbuka Dalam Penanganan Kasus Korupsi

5-10 tahun masih harus top up untuk bayar bunga hutang, lanjut Donny Arsal. Sebab, infrastruktur jalan tol dibangun dengan dana pinjaman. Kenapa minjam? Karena PT. Jasa Marga (Persero) tbk tak punya cukup dana. Kenapa dipaksain? Pertama, karena pilpres sudah dekat. Kedua, ada yang semangat ngasih pinjeman. Kok semangat? Karena ada maunya.

Begitu mahalnya infrastruktur jalan tol, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono ke X tak mau bangun jalan tol. Lebih suka bangun ring road. Pertama, biaya gak terlalu besar. Jadi, tak perlu dana pinjaman. Apalagi pinjam luar negeri, yang ujung-ujungnya harus terima impor tenaga kerja. Kedua, gratis. Gak perlu bayar.

Rakyat tak terbebani. Bahkan motor pun bisa menikmati. Ketiga, pedagang kecil tak perlu tutup, karena pengguna jalan masih bisa mengakses ke para pedagang yang bertahan hidup dengan jualan makanan itu.

Gubernur DIY tak perlu pusing mikir pilgub berikutnya. Malah pingin hak istimewa sebagai gubernur dicabut. Tapi, rakyat menghendaki tetap jadi gubernur. Ini baru seorang pemimpin. Pemimpin yang memikirkan rakyatnya akan selalu banjir dukungan dari rakyat.

Sebaliknya, pemimpin yang sibuk dengan dirinya, ia akan mengemis dukungan dari rakyatnya. Segala cara dilakukan, kendati tabrak aturan. Yang penting, dapat dukungan.

Kalau begitu, lalu jalan tol dibangun untuk siapa? Untuk rakyat? Yang jelas, orang-orang miskin tak bisa menikmatinya.

Termasuk sopir truk dan penjual telur asin atau untuk memenuhi kepentingan dan ambisi pihak yang membangun? Seandainya anda menjawab bahwa jalan tol dibangun untuk menghadapi pilpres, anda tak terlalu salah. Karena jawaban anda mirip dengan jawaban orang yang ada di istana.

Jakarta, 24/2/2019

Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa Gak habis pikir! Semua aktifitas negara ini didominasi […]

Jakarta –  Sekjen Dewan Pengurus Nasional Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia, Cahyo Gani Saputro mengapresiasi langkah […]

Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa Asyik… Tol Trans Jawa sudah jadi. Lebaran bisa […]

Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa Menang! Itulah tujuan debat pilpres. Benarkah? Secara pragmatis, […]

Surabaya – Persatuan Alumni Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Jawa Timur menggelar acara Dies Natalis ke-60 […]